|

Pengalaman MB Bontang PKT di KLWMBC 2007

Akhirnya cita-cita MB Bontang PKT untuk keluar negeri terwujud dengan mengikuti KLWMBC di Kuala Lumpur minggu lalu. Sebelumnya kalau saya bertanya kepada Yahya (pelatih Perkusi), dia tidak mau percaya bahwa kami akan benar benar berangkat ke KL, sampai dia bilang tidak akan percaya sampai menginjak tanah KL . . . setelah tiba disana saya bertanya “Apa anda sudah percaya sekarang?” dan dia hanya bisa tersenyum lebar.

Dengan komentar dan artikel yang telah diposting di Trendmarching belakangan ini, mungkin tidak banyak orang sempat pikirkan rasa sukacita yang dialami oleh anggota MB Bontang PKT ketika sampai di KL pada tanggal 11 Desember kemaren, namun itu benar benar menjadi impian yang terwujud bagi anggota.

Pada saat tiba di bandara KL, kami langsung disambut baik oleh tiga LO (Liaison Officers) yang bernama Mahathir, Wan dan Elfi, yang akhirnya mendampingi kami sepanjang waktu di KL. Juga ada orang dari Kedutaan Besar Indonesia di KL yang membantu dengan urusan Imigrasi, Bea Cukai dan Cargo.

Latihan dilaksanakan di sekolah VI (Victoria Institution), yang saya kenal baik sejak tahun 1998 ketika pertama saya diundang ke KL untuk membantu dengan persiapan Marching Band untuk pembukaan Commonwealth Games. Setiap hari kami latihan di berbagai lokasi di sekolahnya, dan walaupun ada berbagai permasalahan scheduling diantara semua band (ada 13 yang ikut bertanding), tetap pihak sekolah mendukung sebaik baiknya.

Saya perhatikan bahwa di KL saat itu sedang berlangsung musim hujan, jadi setiap pagi atau sore pasti hujan, jadi saya khawatir tentang kondisi lapangan di Stadion Merdeka dimana pertandingan akan dilaksanakan. Jimmy Wong menjelaskan bahwa ada Konser Rock malam sebelum pertandingan dijadwalkan sehingga rumput di lapangan hancur dan becek. Untuk mencegah banyak masalah, Panitia memutuskan untuk memasang sejenis Lantai Beton (kotak kotak plastik yang sering digunakan pada event besar seperti pembukaan Sea Games dls) dengan harapan tidak akan ada masalah bila hujan.

Kami sempat Uji Coba di Stadion hari Jum’at siang sebelum bertanding malamnya, dan rasanya baik baik saja dan tidak ada kekhawatiran. Namun, setelah kami balik ke hotel, ternyata pada sore itu ada hujan lebat selama beberapa jam sehingga saya benar benar khawatir bahwa lantai beton itu akan licin. Panitia meyakinkan bahwa lantainya sudah dipel dan diharapkan akan cukup kering, jadi kami hanya bisa berdoa bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. Sayangnya, diantara masing masing kotak beton, masih ada air yang naik keatas sehingga lantainya ternyata tetap becek dan licin. Dalam penampilan malam itu, tidak kurang dari 5 anggota jatuh kepeleset, rata ratanya itu terjadi pada saat lari dalam display pada akhir Arjuna dan pada akhir Closer (lagu terakhir). Ketika orang pertama jatuh, sudah jelas dari cara marching anggota bahwa semuanya sudah menjadi tegang dan takut jatuh, sehingga mereka sudah tidak enjoy dan fokus pada penampilannya (hal ini sudah disampaikan oleh Pak Benny dalam artikelnya).

Saat itu terjadi, saya cukup yakin kami tidak akan mendapatkan nilai yang diharapkan, jadi terpaksa puas dengan apa yang diberikan oleh juri. Pada saat pengumuman, ternyata MB BPKT dinyatakan di peringkat 2 untuk malam itu (dibawah MB Sultana Asma), dan peringkat 3 dalam keseluruhan (MB Bodin Decha di peringkat pertama). Kesimpulan dari juri Musik rata ratannya terdiri dari mutu suara yang dianggap terlalu keras dan kasar, setelah lagu Arjuna selesai dengan dinamik yang cukup keras, juri merasa bahwa Lagu Cinta masih terlalu keras dan minta dinamik dikecilkan jauh lebih lembut lagi. Ada beberapa komentar seperti itu, sekaligus ada pengakuan bahwa Stadion Merdeka agak kurang tepat untuk mendengar MB yang sebesar MB BPKT karena akustiknya kurang bagus, hasilnya agak berisik dan sulit sekali untuk mendapatkan keseimbangan yang baik, namun juri juga menegaskan bahwa hal seperti itu perlu dipertimbangkan kapan saja berhadapan dengan pertandingan dalam Venue yang kurang baik akustiknya.

Malam itu setelah semua anggota sudah balik ke hotel, kami adakan Briefing pada sekitar jam 12:30 malam – anggota terlihat cape’, lelah dan kecewa, dan ada beberapa yang berjalan dengan pincang setelah jatuh dalam pertandingan malam itu. Saya sampaikan bahwa ada banyak sekali usul dari Juri untuk memperbaiki penampilan untuk besok malamnya dan kita harus benar benar fokus dalam latihan besok supaya lebih siap untuk tampil dalam Babak Final. Oleh karena itu latihan harus dimulai pada jam 8 pagi berikutnya . . . langsung semua anggota keluarkan suara lemas! Mau apa lagi??? Pasrah saja atau berusaha semaksimal mungkin agar memperbaiki kekurangannya?

Jadi besok kami langsung siap siap untuk kembali ke VI untuk latihan lagi. Ternyata hampir semua bis terlambat sehingga latihan baru dimulai jam 9 lewat. Tidak lama lagi, MB Bodin Decha muncul dengan rencana akan latihan di lapangan yang kami tempati. Ternyata ada salah komunikasi diantara masing masing LO sehingga kedua grup dijanjikan pada lapangan yang sama.

Setelah beberapa menit berdiskusi antara LO dan pelatih, kami semua putuskan untuk mencari kompromi demi kebaikan semua, dan akhirnya kami pindah ke bagian lepangan di belakang setelah melanjutkan latihan 30 menit lagi. Begitu selesai pindah, pelatih utama dari MB Bodin Decha datang ke saya dan ucapkan terima kasih dan mulai ngobrol dengan baik sekali tentang pengalaman dia dengan teman dari Texas (tempat yang saya dibesarkan), dan ternyata ada rasa saling menghormati antara kami berdua.

Setelah pindah ke bagian belakang lapangan dan mulai latihan dengan lebih intense, ternyata ada beberapa tamu yang datang, yaitu kontingen dari GPMB (Ibu Lisa, Pak Iwan, Pak Benny, Pak Lutfi, Pak Harry dan Staff GPMB) yang datang untuk memberi dukungan moril kepada kami semua. Kami benar benar terharu dan tersanjung oleh kehadiran mereka sehingga semangat latihan menjadi lebih tinggi lagi. Ternyata pada penampilan juga ada Pak Pappu (Wijaya Musik) dan Herry Subrata, yang memberikan dukungan yang baik kepada kami dan kedua MB dari Bandung.

Sepanjang latihan pagi itu, saya dan Hery (pelatih Brass) fokus kepada mutu suara, dinamik, tuning dan keseimbangan suara sesuai dengan saran dari juri. Untuk mencegah musibah lagi, saya berdiskusi dengan Deni (pelatih Display) agar merubah display di ending show dimana anggota lari kencang . . . dalam 20 menit Deni berhasil merubah beberapa chart sehingga resiko kecelakaan diminimalkan (Salut kepada Deni!) dan Rosmina bersama Reni (pelatih Color Guard) memutuskan untuk merubah kostum juga agar melancarkan penampilan Color Guard.

Walaupun tetap ada rasa stress dan lelah, tapi dengan hadirnya teman teman dari GPMB dan juga rasa adanya kemajuan yang jauh, lama lama timbul rasa kekompakan dalam perjuangan yang benar benar luar biasa pada hari itu.

Malam itu pada saat selesai pemanasan dan siap menuju ke stadion untuk tampil, ada rasa kebersamaan yang mendalam yang terasa diantara semua anggota, semuanya berdoa bersama, saling beri salaman dan pelukan . . . sungguh mengharukan!

Syukurlah karena ternyata lapangannya kering dan cuacanya cukup mendukung untuk penampilan yang baik. Dari March In sampai Pemanasan sampai Hormat suasana yang dibuatkan oleh anggota menunjukkan bahwa mereka benar benar siap untuk memberikan yang terbaik dalam penampilan di Finalnya. Dan dari not pertama di lagu Mukadimah, sangat jelas bahwa para pemain Brass sudah memberi fokus yang baik dan benar terhadap dinamik dan kemulusan suara. Penampilan berlangsung dengan baik dari awal sampai selesai, tidak ada yang jatuh dan jarang ada yang tampil dengan over sehingga suara kasar muncul.

Pada dasarnya penampilan MB BPKT pada Final cukup memuaskan dari segi teknis dan bahwa anggota dapat menahan semangat dan keinginan untuk bermain dengan suara full seperti biasa sungguh menunjukkan konsentrasi yang tinggi. Kalau ada kekurangan yang mencolok, yaitu dari waktu ke waktu dimana anggota perlu tampil dengan rasa “Pede” yang tinggi (seperti di bagian2 Quartet Trumpet di intro Laskar Cinta), ternyata anggota menjadi ragu ragu dan agak kacau dibandingkan biasanya. Kadang kadang pemain brass menahan suaranya sehingga timbul masalah tuning yang biasanya tidak dialami.

Bagaimanapun adanya kekurangan dalam penampilan final, baik dari sisi tuning yang agak kurang, jarak dalam display yang kurang rapi atau GE yang kurang dasyat karena anggota terlalu berhati hati dalam penampilannya, saya sangat bangga sekali dengan usaha mereka yang agung dalam waktu yang sangat singkat . . . bukan hanya bahwa latihan total dalam persiapannya cuma sebulan lebih, tapi perubahan pada hari Final cukup drastis dan mereka sanggup meningkatkan konsentrasi sehingga menjadi jauh diatas tingkat yang biasanya.

Saya dan Staff semua cukup yakin akan ada peningkatan penilaian dari juri yang cukup drastis, paling tidak cukup untuk menaikkan MB BPKT ke peringkat 2. Namun ketika hasilnya diumumkan, nilai MB BPKT hanya naik 0.23 dari malam sebelumnya, bahkan di Caption Music Performance, nilainya menurun . . . padahal perubahan yang dibuat adalah sesuai saran dan permintaan juri . . . sungguh membingungkan!

Setelah dengar komentar dalam kaset dari juri musik, ternyata hanya ada satu juri musik yang menghargai perubahan yang kami buat, yang lainnya tidak begitu memperhatikan perubahannya dan pindahkan fokusnya kepada hal hal lainnya, seolah olah perubahan yang dibuat tidak berarti.

Suatu hal yang benar benar membuat frustasi adalah bahwa tidak ada satu diantara keempat juri musik yang memberi komentar secara teknis terhadap Battery Percussion. Hanya ada sedikit komentar tentang dinamik dan pilihan mallet di Pit, dan ada keluhan bahwa Battery bermain terlalu keras di Percussion Feature sehingga agak menutupi suara Pit . . . cukup menjengkelkan kalau mengingat bahwa Battery Percussion tampil dengan Prima baik di Penyisihan maupun Final, tapi juri Musik tidak mengetahuinya sama sekali!

Seperti Pak Benny sampaikan dalam artikelnya, MB Sultana Asma hanya bawa seksi Perkusi yang kecil (3 snare, 1 quarto, 4 bass drum, 3 cymbal dan 1 marching bells), tidak ada Pit Percussion. Namun nilai musik mereka jauh lebih tinggi daripada MB BPKT. Secara logika, kami bisa hilangkan Pit dan mengurangi Battery Percussion sampai kurang dari separuh dan mendapatkan nilai yang sama . . . bagi saya pribadi ini suatu situasi yang konyol dan tidak masuk diakal sama sekali.

Seandainya ada ahli Perkusi dalam juri Musik, kemungkinan besar nilai kami akan lebih tinggi karena ahli perkusi pasti mengerti faktor kelulitan dengan membawa Battery Percussion dan Pit yang lengkap, dan akan pertimbangkan hal itu pada saat memberi penilaiannya. Yang aneh, sebenarnya ada 2 ahli Perkusi didalam juri (yaitu Paul Doop yang pernah bermain Pit di Blue Devils pada tahun 1987, dan Jonathon Fox yang pernah menjadi pelatih Pit di Cadets pada tahun 1998 – 1999), seharusnya mereka dimasukkan kedalam juri musik, tapi ternyata dua duanya ditugaskan sebagai juri GE. Bagi saya, itu suatu kelalaian dalam penempatan Juri yang tidak dapat dimaklumi atau dimaafkan.

Pada tahun 2003 ketika saya ke Monza, Italy untuk menyaksikan kejuaraan WAMSB disana, saya perhatikan bahwa tidak ada ahli Perkusi didalam Juri juga. Oleh karena itu, saya menawarkan diri untuk memberi komentar dalam kaset untuk semua peserta agar mereka bisa meningkatkan kwalitas Percussion Line untuk kedepan. Robert Eklund (president WAMSB) menyetujui penawaran saya, tapi menegaskan bahwa saya tidak akan memberikan penilaian dan komentar saya tidak sebenarnya mencerminkan penilaian yang diberikan oleh Juri. Walaupun saya menyadari itu, tetap saya merasa ada pentingnya bahwa para peserta diberikan masukan tentang Percussion Linenya.

Pada dasarnya, saya kira misinya WAMSB adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta dari mana saja di seluruh dunia agar bersaing dengan peserta dari mana saja dengan sama rata, tidak pertimbangkan kekurangan ataupun kelebihannya. Konsekuensinya adalah, apabila anda melatih Band yang mempunyai instrumentasi terbatas, anda harus memastikan bahwa semuanya mantap dan rapi, sama juga apabila Band anda mempunyai instrumentasi yang sangat lengkap (termasuk Color Guard), anda harus bertanggung jawab agar semuanya mantap dan rapi juga.

Mungkin pada prinsip awalnya, ini suatu konsep seperti “Utopia” yang dianggap adil bagi semuanya, namun ini tampaknya tidak pertimbangkan factor kesulitan yang intrinsik dalam persiapan MB yang lengkap. Jelas jauh lebih sulit dan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk mempersiapkan penampilan MB yang lengkap dibandingkan dengan MB dengan instrumentasi yang terbatas. Dan disitulah dimana WAMSB memiliki kekurangan yang mendasar dalam peraturannya.

Apakah MB atau Drum Corps yang besar mendapatkan hasil yang baik apabila bersaing dengan MB atau Drum Corps dari Eropa yang jauh berbeda dengan style DCI? Kenyataannya bisa, karena pada tahun 2005 Blue Devils mengikuti kejuaraan WMC / WAMSB di Kerkrade, Belanda dan berhasil meraih Juara 1. Kita semua pasti bisa akui bahwa Blue Devils merupakan Drum Corps yang diantara terbaik di dunia secara konsisten, maka sepantasnya saja bila mereka berhasil menjadi Juara 1 . . . namun kehebatan mereka belum tentu selalu menjamin keberhasilan seperti itu bila bertanding dibawah aturannya WAMSB.

Ini suatu dilema yang sulit untuk dicernahkan dengan baik. Tetapi yang jelas, apabila kita ingin bertanding di Kejuaraan Internasional seperti WMC dan WAMSB, kita harus siap menhadapi tantangan yang luar biasa dan siap “Kalah dengan sikap Ksatria” apabila ternyata kita gagal. Paling tidak, dengan mengikuti kejuaraan tersebut, kita terpaksa bekerja keras dan meningkatkan skill dan musikalitas di MB kita agar siap menghadapi segala sesuatu yang mungkin (atau pasti) terjadi dalam penilaiannya.

Tanggapan saya terhadap hasil di KLWMBC adalah bahwa ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi MB BPKT karena beberapa alasan. Antara lain, karena anggota sempat mewujudkan cita cita dengan bertanding diluar Indonesia untuk pertama kalinya. Anggota juga sempat melihat berbagai jenis dan style MB yang cukup jauh berbeda dari yang biasanya mereka melihat (terutama grup dari Afrika Selatan, Jerman dan Malaysia – yaitu Sultana Asma). Dan rata ratanya anggota MB BPKT merasakan kekalahan untuk pertama kalinya, dimana semua anggota yang ikuti MB BPKT sekarang belum pernah kalah dalam pertandingan MB . . . terakhir kali MB BPKT kalah di GPMB adalah 1993, dan sudah tidak ada anggota dari zaman itu yang masih ikut sekarang.

Bagi saya pribadi, saya tidak merasa bahwa ini suatu kegagalan. Memang sebelumnya saya targetkan 3 besar dan ternyata kami mencapai target itu. Apakah saya kecewa karena MB Sultana Asma dapat peringkat 2 diatas kami dan MB Bodin Decha dapat peringkat 1? Kalau melihat penampilan kedua band tersebut, penampilannya cukup mantap, rapi dan bersih . . . kami ada berbagai permasalahan spacing / jarak di display, berbagai kekurangan dengan suara ensemble dan berbagai kekurangan di Color Guard yang belum kompak – semua hal ini wajar kalau mengingat bahwa persiapannya hanya sebulan lebih, jadi saya cukup menyadari tentang kekurangan kami. Apabila kami punya waktu 6 bulan untuk persiapannya, saya cukup yakin kami akan juara 1 di KLWMBC kemaren.

MB Sultana Asma, walau tidak punya Pit atau Color Guard, tampil dengan sangat manis dan dasyat – patut diancunk jempol karena mereka benar benar mantap dan unik. Sayang sekali ada dampak negative bahwa mereka juara 2 terhadap MB Malaysia, karena ada beberapa pelatih yang selama ini perjuangkan penambahan Pit dan Color Guard dalam aturan kejuaraan Nasional Malaysia, dan ternyata Sultana Asma berhasil mengalahkan Band band lainnya yang mempunyai Pit dan Color Guard . . . tentunya ada resiko bahwa pihak Pemerintah yang menyelenggarakan kejuaraan Nasional akan merasa bahwa tidak ada alasan untuk menambah kedua seksi dalam aturan karena keberhasilan Sultana Asma diatas beberapa MB yang lengkap. Sayang sekali jika terjadi begitu, tetapi seharusnya itu tidak menjadi noda dalam penampilan Sultana Asma yang cukup mengesankan.

MB Bodin Decha memiliki style yang khas dan sikap yang mantap dan profesional, dan sekaligus sangar. Segala aspek dari penampilan mereka ditata dengan rapi. Kalau ada kekurangan bagi saya, itu adalah dari sisi General Effect, karena dalam program mereka ada beberapa bagian yang agak monoton dan sedikit membosankan . . . dan program mereka hanya berdurasi 10 menit – jadi kesannya agak singkat. Namun ketika mereka tampil dengan dinamik Forte keatas, kesannya cukup megah sehingga patut dihargai juga.

Jadi, apakah saya kecewa? . . . mungkin saya sedikit kecewa karena saya seorang perfectionist yang selalu ingin tampil dengan sebaik mungkin, dan anggota MB BPKT juga agak kecewa karena ingin meningkatkan penilaian cukup lebih dari Penyisihan ke Final. Karena nilainya naik hanya sedikit, ada rasa kecewa karena sepertinya kerja kerasnya percuma – namun faktor penilaian ada di tangan juri dan diluar kemampuan kami. Saya merasa bahwa anggota MB BPKT harus berbesar hati maupun rendah hati dan menerima kenyataannya, karena kalau tidak pernah merasakan kegagalan, akan sulit atau mustahil untuk menghargai kemenangan dengan sebaik baiknya.

Semua kekurangan dalam penilaian berdasarkan kekurangan dalam system penilaian dari WAMSB dan bukan kesalahan dari pihak Panitia di Kuala Lumpur, mereka bersikap sopan dan selalu menghormati kami selama di KL. Para Juri adalah Juri Internasional dan tidak ada satu Juri dari Malaysia, sehingga saya tidak ada kekhawatiran bahwa suatu kecurangan terjadi karena eventnya diselenggarakan di Malaysia.

Oleh karena semua yang saya tulis diatas, saya merasa ini sebagai pengalaman yang sangat berharga bagi kami semua, dan kami dapatkan banyak masukan dari Juri, MB dan teman teman lainnya yang akan memberi semangat untuk berkembang lebih tinggi lagi.

Viva Marching Band Bontang Pupuk Kaltim – VINCERO!


Short URL: https://trendmarching.or.id/read/?p=765

Posted by on Dec 23 2007. Filed under Events, Luar Negeri, News, News, Review. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply


Recently Commented