|

Sayangi telinga anda

Biasanya kalau menjelang bulan Desember, seluruh komunitas marching band tanah air akan tertuju pada satu tujuan, menantikan GPMB. Maka seluruh daya upaya, usaha, dan urusan akan dikorbankan demi melihat acara akbar ini. Termasuk penantian menjelang GPMB dimana website yang berurusan dengan marching band akan di-click,
kalau bisa setiap hari, demi melihat kabar terbaru dari unit-unit yang akan bertanding.

Seyogyanya pula tulisan ini akan ‘nimbrung’ dalam aura bertanding menjelang GPMB ini. Mumpung semua mata tertuju pada website ini, maka saya akan menulis beberapa tips yang dapat membantu dan mempersiapkan unit anda dalam bertanding nanti, khususnya yang berhubungan dengan ‘telinga’.

Ya betul, apalagi setelah melihat urutan penampilan yang ‘kelewat’ banyak pada hari sabtu itu, dimana terdapat sekitar 27 unit yang akan ‘membisingkan’ suara masing-masing selama 12 menit. Jadi, apabila dipadatkan, suara tersebut
akan berlangsung sekitar 324 menit, atau sekitar 5 jam 30 menit non-stop. Sebagai ilustrasi, apabila anda seorang pemain drum amatir, atau anda mempunyai grup band yang sedang latihan di studio, bagaimanakah fisik dan telinga anda, bermain selama 5,5 jam nonstop di studio latihan? Atau bagaimana pendengaran kalian setelah berada di dekat mesin jet pesawat terbang, selama 5,5 jam? Atau yang lebih ekstrim lagi, bagi anda pemain non-cymbal, cobalah berada dekat pemain cymbal crash dan dengarkanlah suara cymbal itu selama 5,5 jam non-stop? Berani coba?

Seperti itulah yang akan dialami oleh para penonton dan terutama juri yang menilai sebuah pertandingan. Tidak hanya GPMB saja, event-event yang diadakan di indoor atau lapangan tertutup, ternyata membutuhkan energi yang lebih ketimbang mereka yang mendengarkan di lapangan terbuka. Barangkali di kesempatan mendatang, saya akan memberikan ilustrasi lebih ilmiah, namun ada baiknya kita mengerti ‘penderitaan’ seorang penonton dan penilai selama mereka duduk dan melihat penampilan sebuah unit.

Suatu hal yang logis saja, telinga kita merupakan indera yang berguna untuk mendengar, dan indera ini sangat dekat dengan otak kita, konon merupakan indera terdekat dengan sensor motorik dan keseimbangan. Apabila indera pendengaran ini terus menerus diberi suara dengan kekuatan diatas ambang batas, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi sistem motorik dan keseimbangan tubuh. Keletihan merupakan sindrom pertama yang datang, dilanjutkan dengan semakin berkurangnya sensitifitas pendengaran seseorang, diikuti pusing sebelah, pusing yang sangat, dan bisa berakibat fatal, ketulian. Wah, kalau yang satu ini jangan sampai terjadi!!
Namun, ada baiknya dua hal pertama sebaiknya kita perhatikan.

Seandainya kita sebagai penonton, duduk di bangku penonton mulai dari jam 9 pagi, siap mendengarkan penampilan, maka tubuh dan telinga kita berada dalam kondisi fit. Penerimaan sebanyak 0 dB (nol decibel – keadaan normal suara
– mohon dikoreksi kalau salah) mampu di terima dengan baik oleh telinga kita. Seiring berjalannya waktu, sampai jam 12 siang, maka sudah saatnya tubuh membutuhkan energi, setelah 3 jam berkutat dengan ‘kebisingan’ itu.
Namun masih terdapat sekitar 12 jam lagi untuk duduk ditempat yang sama, mendengarkan kembali ‘kebisingan’ itu. Bisa dibayangkan oleh anda, betapa lelahnya sang ‘telinga’ itu didukung oleh tubuh anda yang semakin ‘drop’.

Lalu sebagai unit yang akan bertanding pada akhir acara, apakah mereka akan berkata, “Wah saya akan kebagian apesnya dong? Apakah juri akan bisa bertahan dengan kondisi yang sama dengan jam 9 pagi?” Hmmmm, suatu hal yang mesti dipertimbangkan secara ‘non-teknis’ juga oleh peserta.

Sebagai salah seorang yang pernah duduk sebagai juri di berbagai kejuaraan marching band, saya mengerti benar bahwa kapasitas seorang juri adalah menilai secara obyektif dan memberikan komentar membangun dan konstruktif kepada unit yang sedang bertanding, betul? Namun, kalau meniru syair Candil “seriueus” yang dimodifikasi menjadi “Juri juga manusia…” maka tubuh (baca: telinga) mereka pun mempunyai limit tertentu untuk menerima suara diatas
10 dB. Maka apapun caranya, permainan yang akan ditampilkan harus didukung dengan suara yang ‘berkecukupan’ atau ‘moderat’.

Bagaimana menampilan suara yang ‘moderat’ itu? Berikut salah satu suara-suara yang diyakini dapat mengurangi kepekaan telinga dan agar keseimbangan suara dijaga sepanjang penampilan:
1. Keseimbangan (balance) suara perkusi, terutama snare dan quint harus JAUH berkurang. Ingat! Dalam marching band, suara perkusi adalah penentu tempo dan irama, BUKAN penentu kerasnya suara. Posisi suara perkusi sebisa mungkin berada di bawah suara brass. Apalagi anda bermain di indoor, pantulan suara perkusi jauh lebih terasa, ketimbang suara brass. Pantulan suara yang nyaring akan berlipat ganda saat memantul.
2. Kepada para snarers, mohon jangan sering memainkan ‘rim shot’ secara berlebihan. Kalau memang dalam aransemen perkusi membutuhan rim shot, maka sebaiknya intensitas (velocity) suara tersebut dikurangi, karena dapat
memekakkan telinga.
3. Suara bells, pemakaian mallet bening dapat juga menciptakan decibel yang tinggi. Apabila unit anda mempunyai lebih dari 2 marching bells, seyogyanya memainkan alat tersebut dengan mallet yang tidak terlalu keras.
4. Pemakaian suspended dan crash cymbal yang berlebihan. Ini terkadang dilakukan setiap akhir lagu, dan kalau bisa membunyikan suara gong sekeras mungkin. Apakah terpikir oleh anda bahwa penonton dan juri akan menutup telinga karena efek tersebut?
5. Janganlah ‘Mengamuk’ di setiap akhir lagu, terutama lagu terakhir.
Tidak ada gunanya membunyikan suara yang kelewat keras manakala not tidak bisa terdengar jelas. Fokus pada harmoni suara brass dan pit, walaupun di partitur tertulis ‘fff’. Pertimbangkanlah dengan akustik ruangan indoor.

Dari tips diatas disimpulkan seakan-akan pihak yang bersalah adalah perkusi.
Tidak juga. Bagaimana dengan suara brass beregister soprano? Kebanyakan dari beberapa unit yang saya dengar, suara trumpet 1 adalah maha dewa, bahwa sepanjang permainan, suara itulah yang kerap terdengar. Penyelesaiannya adalah optimalkan suara brass yang lain, seimbangkan harmoni brass, dan kurangi dominasi ‘keunggulan trumpet 1’ dalam semua lagu. Hal ini mungkin akan mengurangi ‘kebisingan’ yang terjadi di lapangan.

Nah, dengan demikian, maka apabila tercipta suara yang ‘balanced’ maka tidak menutup kemungkinan bahwa penonton dan terutama juri akan merasakan manfaatnya, seperti:
1. Dapat menikmati lagu yang dimainkan
2. Tidak ada distorsi suara yang berlebih
3. Kepekaan telinga dapat terjaga
4. Tubuh dan keseimbangan badan tetap fit, walaupun harus sampai larut malam
5. Tidak ada komentar miring tentang band itu (dalam hal musik) atau tidak ada yang menutup telinga.

Sehingga pada akhirnya keputusan juri tidak bisa diganggu gugat, eh salah, keputusan juri dapat lebih obyektif karena mereka masih dalam keadaan fit. Dengan kata lain, buatlah mereka ‘tersenyum’ saat hasil diumumkan. “Manjakan” telinga mereka dengan alunan lagu yang enak didengar, selayaknya mendengarkan sebuah orkestra dalam gedung.

Sebuah ilustrasi non-ilmiah semata yang mungkin berguna bagi unit-unit yang akan bertanding. Dengan kata lain, mulailah melakukan perubahan mengenai manajemen suara. Sebagai penutup, sekali lagi, sayangilah telinga anda! Selamat bertanding dan tunjukkan sportivitas bertanding anda.

Salam,

Marbo
Ps: Penulis adalah pemerhati marching band Indonesia, Jupiter endorser dan sedang menyelesaikan studi BMusEd di MEC Suling Bambu.


Baca juga :

Short URL: https://trendmarching.or.id/read/?p=735

Posted by on Nov 27 2007. Filed under News. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Recently Commented

  • Yelanda: Maaf apa ada yang tahu dimana bisa mendapatkan buku pengetahuan dasar marching band? Karena saya membutuhkan...
  • devi: slmt mlm.. sy salah satu peserta drumband bahana harapan kalo ga salah th 2004 sy kelas 2 SMP dulu ikut langgam...
  • Maman: Apakah buku ini masih terbit
  • Percussionimasta: Yang dimaksud Indonesia yang mana? Karena Indonesia sudah punya Induk Organisasi permarching...
  • armh: mantap tutorialnya salam kenal ARMH