|
Parade konser ensemble recorder kembali digelar untuk kesekian kalinya, acara
ini merupakan puncak dari program pembinaan pendidikan musik di tanah air kita.
Acara yang berlangsung pada tanggal 6 Mei 2007 di Auditorium RRI, Jakarta Pusat
ini merupakan hasil kerjasama Yayasan Musik Indonesia (YMI)
dengan Departemen Pendidikan Nasional melalui Dinas Pendidikan
di seluruh Indonesia.
Adapun peserta festival ini berasal dari berbagai daerah, sebagai hasil dari
lokakarya dan seminar musik recorder yang diadakan sebelum festival ini berlangsung.
Sehingga para peserta tersebut ada yang berasal dari kalangan guru-guru hingga
anak muridnya.
Sebagai salah satu syarat mata kuliah yang harus diikuti di Music Education
College “Suling Bambu”, penulis beserta mahasiswa jurusan S1 lainnya
diwajibkan untuk mengikuti dan menganalisa acara ini. Acara dimulai pukul 10
pagi dengan penampilan Group Ensemble Guru SD Cimanggis Depok
dengan lagunya Bunga Nusa Indah dan Kelap Kelip Bintang Kecil. Satu hal yang
unik menurut penulis adalah agak janggalnya pemain recorder, yang biasanya dimainkan
oleh anak-anak SD, sekarang dimainkan oleh guru-gurunya. Aransemen yang cukup
sederhana, dengan 2 suara, ditambah solo dan duet recorder selama lagu tersebut
dimainkan.
Penampilan selanjutnya dimeriahkan oleh penggunaan instrumen tambahan seperti
pianika, drum, elektric bass dan grand piano, bersama Group Guru Kecamatan
Pancoran, Jakarta. Dengan memainkan lagu yang sama yaitu Bunga Nusa
Indah dan Anugerah, diaransemen oleh Cheppy Sumirat, komposisi dan permainan
oleh guru-guru cukup rapi dan solid, terutama keseimbangan 3 pembagian suara
recorder, pianika dan alat musik listrik lainnya. Tidak ada suara yang terlalu
keras, dan melodi dan akompanimen suara cukup seimbang.
Setelah Group Ensemble Guru SMP se kabupaten Subang dan sekitarnya
selesai bermain, dilanjutkan oleh penampilan oleh anak-anak SD dan SMP. Penampilan
pertama adalah Group Ensemble SD Wukiretawu, Merak Cilegon.
Peralatan yang dibawanya cukup komplit, yaitu Pianika, Recorder, Rebana, Gitar,
Keyboard, Glockenspiel, Piano, Tambourine, dan Cymbal. Lagu yang dimainkan juga
berbeda dengan ensembel lainnya, yaitu Kampung Halamanku dan Tombo Ati. Menurut
penulis aransemen lagu tersebut sedikit mengikuti aransemen Marching Band, yang
mana terdapat hentakan dan aksentuasi yang khas dan banyak dijumpai di aransemen
Marching Band. Namun tetap saja sajian ensemble tersebut cukup bagus untuk anak-anak
SD dan keseimbangan suara tetap terjaga.
SD Negeri Dr. Cipto, Bandung adalah salah satu penampilan
berikutnya, dengan memakai instrumen Angklung. Ada beberapa suara dari alat
ini yang kurang terdengar, serta melodi yang berasal dari recorder yang tertutup
dengan instrumen listrik dan drum. Barangkali penempatan microphone condenser
yang agak jauh dari angklung dan keseimbangan suara yang harus diperhatikan
oleh ensemble ini.
Salah satu penampilan yang cukup menarik perhatian penulis adalah ensemble
Three Nada Musica Java Straat, Bandung, dengan menggabungkan
recorder soprano, alto, tenor, bass recorder, gitar akustik, biola, gitar bass
listrik dan pianika. Cukup berani mereka membawakan lagu Irama Desa dan Peyeum
Bandung memakai beragam instrumen akustik dan elektrik. Ada beberapa tempat
dimana penulis merasa melodi yang dimainkan sedikit kurang jelas dan ada beberapa
tuning instrumen yang kurang sama dengan instrumen. Namun secara keseluruhan
keseimbangan suara dan komposisi aransemen enak untuk didengar.

Jakarta Recorder Club |

Gita Samitra Orchestra |
Sebagai bintang tamu, ditampilkan Jakarta Recorder Club yang
ternyata anggotannya adalah istri-istri dan karyawati berwarga negara Jepang.
Terdiri dari sebelas personil, Jakarta Recorder Club membawakan 4 lagu, diantaranya
Heigh-Ho (lagu Snow White). Sungguh permainan sederhana, namun perpaduan recoder
soprano, alto, tenor dan bass sangat menyatu dan harmonis. Acara dilanjutkan
dengan penampilan. Gita Samitra Block Flute Ensemble dan Gita
Samitra Orchestra.
Adapun orchestra yang dipimpin langsung oleh Cheppy Sumirat
ini merupakan perpaduan unit instrumentasi recorder, biola, flute, french horn,
timpani, drumset, electric gitar dan bass, grand piano, marimba dan vibraphone,
bahkan terdapat instrumen kecapi dan kendang Jawa Barat. Serta dipadukan juga
oleh paduan suara Expresso De Ritmo SMA 70 dan paduan suara
SMA 82, Jakarta. Memainkan sebagian lagu daerah seperti Bolelebo,
Lenggang Padi dan Joget Ketipung, permainan mereka cukup kompak dan beragam.
Perpaduan instrumen ini yang penulis tertarik, mengingat tidak lazimnya recorder
dan pianika digabungkan dengan instrumen orkestra pada umumnya. Namun berkat
kelihaian aransemen Cheppy Sumirat, perpaduan ini terlihat solid dan harmonis.
Pagelaran konser ensemble ini adalah pertama kali dilihat oleh penulis. Penulis
menyimpulkan bahwa pagelaran ini dapat membantu anak-anak dalam merasakan bermain
secara kolektif. Mereka diminta untuk bermain sesuai porsinya dan harus
mendengarkan suara dari instrumen lainnya. Satu hal positif dari ensemble ini
adalah para pemain harus mampu mengidentifikasi dan mengerti bagian mana melodi
dan bagian mana sebagai pengiring, sehingga didapat keseimbangan suara. Ada
beberapa grup yang kurang memperhatikan keseimbangan suara, terutama instrumen
listrik yang cenderung keras karena memakai amplifikasi, sehingga melodi yang
berasal dari instrumen akustik seperti recorder terkesan kurang jelas.
Bagi ensemble yang melibatkan instrumentasi selain recorder dan pianika, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah tuning
antar instrumen, terutama alat musik gesek. Memang penulis mengakui sulitnya
pemain gesek untuk memainkan instrumennya dan men-tune alatnya. Namun hal ini
akan menjadi mudah apabila berlatih secara konsisten dan sering melibatkan grup
lain untuk saling mendengar suaranya.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh pelatih ensemble adalah teknik
pernafasan. Dari semua penampil terutama anak SD dan SMP, teknik ini
dirasa perlu ditingkatkan. Adapun pelatih dan pengajar harus mampu memberi pengarahan
tentang breathing pada recorder dan pianika, dimana harus mengambil nafas, dimana
tidak boleh mengambil nafas, sehingga frase atau kalimat dalam lagu tidak terputus.
Bagi dunia Marching Band, ada baiknya dapat melihat konser semacam ini untuk
menjadi bahan perbandingan antara musik duduk dengan musik berjalan. Adapun
secara musikalitas, keduanya sama saja, mengingat Marching Band adalah pagelaran
musik duduk yang dibawa berjalan, sehingga faktor musik juga menjadi sangat
penting. Faktor keseimbangan melodi dan harmoni merupakan salah satu unsurnya.
Bagi penulis, adalah penting untuk memainkan lagu, irama, ekspresi dan intepretasi
lagu dengan baik dan rapi dulu, sebelum dibawa ke lapangan.
Secara keseluruhan, pagelaran ini merupakan awal yang baik bagi perkembangan
musik di tanah air. Mengingat masih tertinggalnya pendidikan musik di Indonesia,
acara seperti ini hendaknya menjadi acara yang reguler dan semakin banyak diadakan,
terutama di daerah. Satu hal yang dapat kita petik manfaatnya adalah apabila
anak didik kita banyak bermain secara ensemble, maka kemampuan dan analisa bermusik
mereka akan semakin tajam, dan kemampuan membaca not balok dan bermain musik
secara kolektif akan semakin baik.
(Penulis adalah salah satu mahasiswa MEC ‘Suling Bambu’ yang
sedang mengikuti program S1-Bachelor of Music Education).
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |